Dear someone I once loved.
I’ve been thinking about this for a while before finally typing it.
I didn’t want this to sound like something unnecessary,
but Christmas always brings memories back in the softest and heaviest way.
Jujur, aku udah nyoba ketemu orang lain.
I really did. Aku coba buka hati lagi, aku coba percaya kalau rasa bisa tumbuh dengan orang yang berbeda.
Tapi setiap kali aku ngerasa hampir sampai,
aku selalu sadar satu hal yang sama, nggak ada yang rasanya kayak kamu.
And that realization still hurts more than I’d like to admit.
Aku masih inget hal-hal kecil tentang kamu.
Tentang kamu yang suka kue,
dan tiap Natal pasti bakal seneng karena ada banyak kue.
Sampai sekarang, itu masih kepikiran.
So I imagine tonight kamu lagi senyum,
pelan-pelan menikmati kue favorit kamu,
merasa senang, merasa puas, in your own little happiness.
I know my place now is different,
dan aku paham batas itu harus dijaga.
Aku nulis ini bukan buat narik kamu ke masa lalu,
atau buat ganggu hidup yang sekarang kamu jalanin.
Aku cuma pengen jujur, sekali ini aja,
tentang perasaan yang belum pernah benar-benar selesai.
There are feelings that don’t ask to be kept.
They just stay, quietly, without demanding anything.
I pray that life treats you gently.
Semoga langkah kamu selalu diikuti hal-hal baik.
Semoga kamu sehat dan hari-hari kamu dipenuhi rasa bahagia.
Semoga kamu dicintai dengan cara yang pantas kamu dapatkan,
dan semoga kamu selalu merasa cukup, di mana pun kamu berada.
Even if that happiness no longer includes me,
I still wish you the best, sincerely.
Merry Christmas.
Take care, always. 🤍